Selasa, 09 September 2014

HUMANIORA SEBAGAI ILMU, NILAI DAN TEKNBOLOGI






humaniora merupakan ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi. Memasuki zaman modern dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia berusaha mengikuti perkembangan tersebut. Dalam bidang pendidikan, Indonesia saat ini sedang bergerak naik dengan berbagai usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah dalam memajukan mutu pendidikan bangsa. Hal ini mendapatkan perhatian dari masyarakat dengan meningkatnya minat untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi (perguruan tinggi) dengan berbagai macam pilihan ilmu dan program studi yang ada. Namun, sayangnya, masyarakat cenderung memiliki anggapan bahwa kesuksesan hanya berpihak pada seseorang yang belajar atau mempelajari ilmu-ilmu eksak saja. Inilah mengapa humaniora mendapat pandangan miring oleh masyarakat.
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa ilmu humaniora merupakan studi yang memusatkan perhartiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan. Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif. Dalam bidang humaniora rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalili-dalil akal, tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif.


Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Hakikatnya, IPTEK dipelajari untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia dan bukan sebaliknya, menghancurkan eksistensi manusia dan justru menjadikan manusia budak teknologi. Oleh karena itu, tanggungjawab etis diperlukan untuk mengontrol kegiatan dan penggunaan IPTEK. Dalam kaitan hal ini, teradi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, kepentingan generasi mendatang dan bersifat universal. Keberadaan tanggungjawab tidak bermaksud menghambat kemajuan IPTEK, justru dengan adanya dimensi etis yang mengendalikan kemajuan IPTEK akan semakin berlomba-lomba meningkatkan martabat manusia sebagai “tuan” teknologi dan bukan hamba teknologi. Pada awalnya teknologi diciptakan untuk meringankan dan membebaskan manusia dari kesulitan hidupnya. Namun manusia justru terjebak dalam kondisi konsumerisme yang semakin meningkatkan ketergantungan manusia akan teknologi dan parahnya, menjadikan manusia budak teknologi. Manusia semestinya memajukan IPTEK sesuai dengan nilai instriknya sebagai pembebas beban kerja manusia. Bila tidak sesuai, maka teknologi justru akan menimbulkan ketidakadilan dalam masyarakat karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Selain itu, martabat manusia akan semakin direndahkan dan menjadi budak teknologi, berbagai penyakit sosial merebak di masyarkat sehingga pada fenomena dehumanisasi ketika manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spritual.

Pergeseran Nilai Dampak Kemajuan Teknologi

Teknologi, istilah ini apabila diucapkan yang akan terbayang oleh kita adalah alat-alat elektronik digital yang mungkin super canggih, super cepat, super lengkap dan harganya mahal. Dengan bantuan alat-alat tersebut kita dapat lebih mudah dalam menjalani kehidupan dan lebih mudah pula berkomunikasi dengan orang-orang yang berada jauh dari kita. Di era modern ini, dimana semua aspek kehidupan tak bisa dilepaskan dari keberadaan dan kebergantungan pada teknologi, membuat perkembangan teknologi menjadi sedemikian pesatnya. Hal ini mungkin disebabkan karena permintaan masyarakat akan alat elektronik yang lebih canggih, cepat dan lengkap daripada sebelumnya. Berbagai temuan dan perkembangan IT yang tidak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya kini berada di depan mata. Keberadaan teknologi pada semua aspek kehidupan ini pula yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh pada pola interaksi, pada kehidupan sosial masyarakat. Kemajuan teknologi jarak jauh seperti PDA, telepon selular, komputer, kamera, dan internet membuat kehidupan manusia menjadi lebih mudah sehingga tak ada lagi jarak pembatas di bumi ini. Semuanya dapat dijangkau tanpa harus berada di tempat yang dikehendaki. Seperti dua sisi mata pisau, kemajuan pesat yang dialami teknologi ternyata tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga membawa dampak negatif bagi masyarakat. Disadari atau tidak, ia telah mengubah beberapa nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.
Di Indonesia, yang merupakan negara dengan adat ketimuran yang kental, rata-rata masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai, norma dan adat istiadatnya sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara turun temurun. Nilai dan norma yang dimaksud adalah sopan santun, menghormati orang tua, saling menghargai sesama, budaya gotong royong, bermusyawarah, dan lainnya yang menjadi ciri khas orang Indonesia. Kebiasaan mengalah, menghargai jasa orang lain, menghormati hak milik orang merupakan gambaran betapa orang Indonesia merupakan bangsa yang sangat menjunjung tinggi budayanya. Bagi orang Indonesia budaya adalah jembatan menuju kesuksesan, budaya adalah tempat untuk mencari solusi jika terdapat permasalahan, budaya adalah harta yang tak ternilai harganya. Teknologi komunikasi pertama yang muncul dan berkembang di masyarakat adalah surat kabar atau koran, kemudian berkembang radio, televisi, film, handphone dan yang terakhir dan masih terus mengalami perkembangan pesat adalah komputer dan internet. Dengan kemunculan surat kabar dan radio, membawa dampak pada struktur dan pola interaksi masyarakat. Jika dulu dikenal ada istilah opinion leader, kini peran tersebut digantikan oleh media massa. Opinion leader dapat diperankan oleh pemuka agama, tetua, tetua adat atau orang-orang yang dianggap kharismatik dan dapat mempengaruhi audience. Saat ini peran tersebut diambil alih oleh media massa. Dengan perkembangan teknologi komunikasi massa saat ini sehingga mudah dijumpai kapan dan dimana saja, membuat orang tidak lagi bergantung pada opinion leader apabila hendak mencari informasi, tetapi sudah dapat memperolehnya sendiri dari media massa. Semakin dominannya peran media massa terhadap masyarakat membawa dampak positif dan juga negatif. Dampak positifnya, masyarakat menjadi lebih cepat mengetahui informasi dan membuat tingkat pendidikan meningkat, tetapi dampak negatifnya apabila tidak diberi informasi yang sebenar-benarnya dan tanpa adanya regulasi yang mengatur, akan membuat masyarakat ‘menelan’ informasi tersebut bulat-bulat, terutama untuk masyarakat awam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar