¨Hati nurani
memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu. Ia tidak berbicara
tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret. Tidak
mengikuti hati nurani ini berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati
martabat terdalam kita. Hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan bahwa
manusia mempunyai kesadaran. Dan di dalam diri manusia terjadi proses
penggandaan, yaitu pengenalan sebagai subjek dan objek
Hati Nurani
dibedakan menjadi dua :
Hati nurani
retrospektif
Memberikan
penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung di masa lampau. Ia
menyatakan bahwa perbuatan yang telah ia lakukan itu baik atau buruk.
Hati nurani
prospektif
Melihat ke masa
depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita di masa yang akan datang. Hati
nurani dalam arti ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu atau mengatakan
jangan dan melarang untuk melakukan sesuatu.
2. Shame Culture
dan Guilt Culture
Antropologi budaya
membedakan dua macam kebudayaan shame culture (kebudayaan malu) dan guilt
culture (kebudayaan kebersalahan). Kebudayaan malu seluruhnya ditandai oleh
rasa malu dan di situ tidak dikenal rasa bersalah. Kebudayan kebersalahan
terdapat rasa bersalah. Shame culture adalah kebudayan dimana pengertian-pengertian
seperti “hormat, reputasi, nama baik, status, dan gengsi” sangat ditekankan.
Bila orang
melakukan suatu kejahatan, hal itu tidak dianggap sesuatu yang buruk begitu
saja, melainkan sesuatu yang harus disembunyikan untuk orang lain Bukan
perbuatan jahat itu sendiri yang dianggap penting, tetapi yang penting adalah
bahwa perbuatan jahat tidak akan diketahui, jika perbuatan jahat diketahui,
pelakunya menjadi “malu”. Dalam shame culture sanksinya datang dari luar, yaitu
apa yang dipikirkan atau dikataka oleh orang lain Dalam shame culture tidak ada
hati nurani.
Guilt culture
adalah kebudayaan dimana pengertian-pengertian seperti “sin” (dosa), “guilt”
(kebersalahan), dan sebagainya sangat dipentingkan. Sekalipun suatu kesalahan
tidak akan pernah diketahui oleh orang lain, namun si pelaku merasa bersalah
juga. Ia menyesal dan merasa tidak tenang karena perbuatan itu sendiri, bukan
karena sicela atau dikutuk orang lain.
3. Kebebasan dan tanggung jawab
1. Kebebasan
Eksistensial
Kemampuan untuk
menentukan diri sendiri yang dimiliki tiap-tiap manusia ini disebut kebebasan
eksistensial.Kebebasan
eksistensial hanya dapat bergerak sejauh manusia lain tidak
menghalang-halanginya. Dengan kata lain, kebebasan eksistensial manusia adalah
kebebasan dari pembatasan oleh niat atau kehendak manusia lain. Kebebasan
jasmani dibatasi dengan paksaan secara fisik, kebebasan Rohani walaupun tidak
dapat dibatasi secara langsung dapat
dikurangi melalui tekanan psikis .
B. Kebebasan Sosial, Kebebasan Eksistensial
dan Tanggung Jawab
Sebagai makhluk
sosial yang memilki kebebasan sosial dan hidup bersama dalam dunia sosial yang
terbatas, sudah jelas bahwa manusia harus menerima bahwa masyarakat membatasi
kesewenangannya. Jadi kebebasan sosial kita terbatas dengan sendirinya. Namun
perlu diketahui juga bahwa masyarakat tidak boleh mengadakan pembatasan yang
sewenang-wenang dengan motif sebagai usaha untuk menjamin kebebasan dan hak
serta kepentingan wajar seluruh warga masyarakat dan harus normatif. Suatu
pembatasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan , tidak dapat dibenarkan.
4. Nilai dan Norma
Nilai adalah :
· Sifat hal yang penting, berguna bagi
kemanusiaan
· Sesuatu yang paling dibanggakan
· Sesuatu yang ingin dicapai
· Sesuatu yang dikagumi
· Kualitas atau fakta
Norma adalah :
· Ukuran
· Suatu aturan
· Pedoman yang mengatur tingkah laku
masyarakat
· Standar pertimbangan
5. Hak dan
Kewajiban
Hak merupakanpengakuan yang dibuat oleh orang tau
sekelompok orang terhadap orang atau sekelompok
orang lain. Setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain.
Kewajiban sempurna artinya kewajiban didasarkan atas keadialn, selalu terkait dengan
hak orang lain. Sedanhakan kewajiban tidak sempurna, tidak terkait dengan hak
orang lain tetapi bisa didasarkan atas kemurahan hati atau niat berbuat baik.
6. Menjadi Manusia yang Baik
Suatu kenyataan
yang tidak dapat dibantah, kita didunia ini tidak dapat hidup sendirian,tidak
dapat hidup sebatang kara. Kita semua ini bukanlah malaikat, yang dapat hidup
dengan tidak makan, minum, dan lain sebagainya.
Kita adalah
manusia, kita adalah anak Adam yang tidak boleh tidak pasti mempunyai banyak
keperluan hidup, baik bersifat rohani maupun yang bersifat jasmani, baik yang
primer maupun yang sekunder.
Kita semua tahu
hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepda kebutuhan hidup kita yang
sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin dapat kita cukupi hanya dengan usaha
tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita makan misalnya, setiap suap
nasi yang kita makan, kita memerlukan bantuan puluhan atau bahkan ratusan dan
ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan setiap suap nasi kita itu, sejak
mulai biji padi dijatuhkan di tanah, sampai akhirnya berwujud nasi yang siap
untuk dimakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar